Example floating
Berita OpiniDogeng WartawanOpini

“Kabut di Batam: Sebuah Dongeng tentang Janji dan Kenyataan”

53
×

“Kabut di Batam: Sebuah Dongeng tentang Janji dan Kenyataan”

Share this article

(Dongeng Negeri Pelabuhan Kabut)

TBNNARKBA.com — Di ujung lautan utara, berdirilah sebuah negeri pelabuhan bernama Batama. Kota ini dikenal gemerlap oleh cahaya malam, pelabuhan sibuk, dan gedung-gedung megah yang menjanjikan harapan serta kemakmuran bagi para pendatang.

Batama adalah gerbang perdagangan, tempat kapal datang dan pergi, tempat rakyat menggantungkan hidup dan mimpi.

Suatu ketika, dari Negeri Seberang, sang Raja mengumumkan sebuah ikrar besar bernama Janji Delapan Cita. Ikrar itu berisi janji membersihkan negeri dari praktik gelap dan kejahatan tersembunyi.

Rakyat Batam pun menyeringai, berharap kota mereka akan menjadi tempat yang aman, adil, dan sombong.

Namun seiring berjalannya waktu, sesuatu yang ganjil terjadi.

Kabut tebal mulai menekuk Batama.
Di balik hotel-hotel megah dan pusat hiburan yang terang benderang, muncul rumah-rumah permainan keberuntungan.

Ada roda nasib yang terus berputar, angka-angka ramalan yang tak pernah tertidur, hingga istana kartu yang selalu ramai hingga dini hari. Anehnya, rumah-rumah itu tumbuh subur seperti jamur di musim hujan tanpa pernah roboh, tanpa pernah menyentuh hukum.

Rakyat kecil mulai berbisik satu sama lain. “Bagaimana mungkin para penjaga negeri tidak melihat semua ini?””Kabut di Batam: Sebuah Dongeng tentang Janji dan Kenyataan”

“Apakah kabut ini terlalu tebal, atau mata mereka tertutup oleh cahaya emas?”

Di Batama, para Penjaga Seragam seharusnya menjadi perisai kebenaran dan pelindung rakyat. Namun dalam cerita rakyat yang beredar, sebagian penjaga justru lebih sering terlihat diam.

Bahkan ada bisik-bisik bahwa keheningan itu bukan karena tak tahu, melainkan karena terlalu lama menikmati hangatnya api yang seharusnya mereka padamkan.

Seorang Burung Camar Tua, yang pernah singgah di salah satu istana permainan, bercerita lirih kepada angin laut:

“Konon, setiap bulan ada peti-peti emas yang berjalan sebagai ‘uang damai’. Peti itu berpindah tangan, membuat roda-roda permainan terus berputar tanpa gangguan.”

Cerita itu kian menguat ketika rakyat melihat sendiri betapa banyaknya rumah roda nasib dan gelanggang permainan berdiri terang-terangan. Dalam dongeng ini, bahkan disebutkan puluhan titik permainan tumbuh tanpa hambatan.

Namun, tak satu pun yang benar-benar disentuh.

Lebih parah lagi, rumah-rumah itu dijaga oleh Serigala Malam, bertampang garang, yang siap mengusir siapa pun yang berani bertanya terlalu jauh. Beberapa Pena Truth yang mencoba menulis kisah Batama justru mendapat teror, intimidasi, dan tekanan agar berhenti bercerita.

Di tengah kegelisahan rakyat, Penjaga Benteng Barelang, yang seharusnya memberi jawaban dan ketenangan, memilih diam seribu bahasa. Diam yang terasa lebih nyaring daripada teriakan rakyat.

Maka rakyat Batam pun berkata dalam hati. “Jika penjaga lebih sibuk membungkam suara daripada membongkar sarang tikus, maka Janji Delapan Cita hanyalah syair indah tanpa makna.”

Kini, harapan rakyat Batama diperingati pada Panglima Penjaga Utara, pemegang sumpah kuno bernama Tri Brata—sumpah tentang kesetiaan pada negeri, menjunjung keadilan, serta melindungi dan melayani rakyat dengan keikhlasan.
Rakyat tidak menuntut lebih.

Mereka hanya berharap: agar kabut di Batama terungkap, agar penjaga negeri berani turun langsung memeriksa sudut-sudut gelap kota, agar rumah-rumah permainan yang meresahkan kebenarannya diuji, dan bila terbukti melanggar, hukum ditegakkan tanpa memandang bulu.

“Sebab bagi rakyat Batama, keadilan bukan dongeng.”

“Dan penegakan hukum bukan hiasan kata.”

Agar kisah ini tidak berakhir sebagai dongeng runtuhnya sebuah kota,
melainkan menjadi cerita tentang keberanian membenahi negeri.

 

TAMAT

Catatan Redaksi:  Dongeng
Tulisan ini adalah karya dongeng alegori dan kritik sosial. Bukan laporan peristiwa faktual dan bukan tuduhan hukum

Dongeng ini bertujuan sebagai pengingat moral agar penegakan hukum berjalan tegas, transparan, dan berpihak pada kepentingan.


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights